“Pak, tolong dong anaknya dipegangin. Kepala
teman saya kena tangan anaknya.”
“Oh iya, maaf ya Mbak,” ucap saya pada
seorang wanita yang duduk dibelakang saya ketika kami pulang menuju Malang.
Malam itu kami dalam perjalanan Cirebon-Malang menggunakan kereta api
Matarmaja.
Jujur, baru kali itu saya mendapatkan
teguran dari orang lain atas tingkah lalu Mas Aiman. Saya pun lalu menyuruh Mas
Aiman duduk. Untungnya wanita tersebut menegur saya dengan baik sehingga saya
tidak sampai tersinggung dan merasa dipermalukan. Mungkin teman wanita tersebut
sudah menahan-nahan diri sejak tadi karena kepalanya tidak sengaja kena tangan
Mas Aiman.
Wanita dan temannya itu pasti tahu kalau sejak
dari Stasiun Cirebon Prujakan, saya dan Mama Ivon tidak berhenti menyuruh Mas
Aiman duduk dengan baik dan anteng. Namun apalah daya, Mas Aiman termasuk anak
aktif yang Masya Allah seperti nggak ada capeknya. Padahal sejak pagi kami
sudah keluar hotel, trus mengunjungi Cirebon Waterpark Ade Irma Suryani. Di
sana dia berenang, setelah itu kami makan siang. Trus dia tertidur saat kami ke
Batik Trusmi. Nggak lama dia bangun, cukup lama kami di Batik Trusmi dan dia
pun ikut riweh milih-milih celengan bentuk hewan di sana.
Sore harinya kami balik ke hotel lagi
ambil barang trus tancap gas menuju Stasiun Cirebon Prujakan. Nah sewaktu
menunggu jam keberangkatan kereta, kami bertemu dengan sepasang suami istri
yang membawa anak laki-laki berumur 4 tahun.
Tak butuh waktu lama, Aiman dan Dimas
(nama anak itu) langsung akrab dan bercanda. Rupanya mereka berdua nyambung
karena satu gelombang: sama-sama anak aktif. Mereka bercanda sambil berlarian
ke sana kemari, bahkan menjelang jam keberangkatan mereka tetep asyik bercanda.
Tentu saja ada sedikit rasa geram karena di saat-saat urgent malah jadi molor karena ngurusin Mas Aiman yang nggak
bisa diam. Ketika Dimas dan ortunya naik duluan ke kereta kami bernafas
lega.
Baca juga: Obrolan di Dalam Kereta Malang-Cirebon
Baca juga: Obrolan di Dalam Kereta Malang-Cirebon
Ndilalah, kami
ternyata satu gerbong. Dan reaksi bapaknya Dimas saat melihat Mas Aiman sama
terkejutnya dengan saya.
"Lhoo,
satu gerbong ternyata!"
Saya bisa mengerti, pasti beliau juga
ingin seperti kami yang nggak mau anaknya ramai sendiri sehingga mengganggu
penumpang lain. Tapi semua sudah diatur sama Allah, dua anak aktif itu ternyata
duduk di gerbong yang sama.
Peristiwa selanjutnya sudah bisa ditebak,
Mas Aiman dan Dimas kembali bercanda di dalam kereta. Awalnya saling
sahut-sahutan dari kursi masing-masing, main suit kertas-batu-gunting gitu. Posisi
kami saat itu berseberangan sehingga mereka berdua setengah berteriak agar
saling mendengar.
Keakraban di antara mereka makin menjadi
saja, mereka turun dari kursi dan setelah itu bercanda semakin lepas. Mulai
dari main suit sampai dorong-dorongan, yang paling parah adalah mereka berjalan
ke pintu antar gerbong dan di sana mereka bercanda sampai tertawa cukup keras.
Baik kami maupun ortunya Dimas sama-sama ngingetin agar mereka lebih selow
bercandanya. Suara tawa mereka pasti mengganggu penumpang lain yang sedang
istirahat.
“Nggak apa-apa Mas biarin, namanya juga
anak-anak,” ujar seorang wanita paruh baya yang duduk di seberang saya.
"Dia itu nggak nakal, hanya nggak
bisa diam aja," ucap ibunya Dimas mengomentari kelakuan anaknya. Saya pun
mengiyakan, Aiman juga seperti itu. Selama ini dia tidak pernah mengganggu anak
lain, tingkah lakunya kalau di luar ‘hanya’ asyik dengan dirinya sendiri
seperti lari-lari dan mengeksplore apa saja yang ada di sekitarnya.
Pernah dulu tahun 2016, saat kami dinner
untuk merayakan ultah saya di sebuah restoran, Mas Aiman bosan menunggu
pesananan kami datang. Apa yang dilakukannya untuk menghilangkan kebosanan? Dia
naik-naik ke kursi sodara.
Lalu apakah kami diam saja?
Di foto tersebut memang saya terlihat
tersenyum, seolah-olah nggak peduli sama tingkah laku Mas Aiman. Yang penting
eksis dulu gaes, dasar orang tua zaman now!
Padahal story behind the photo adalah mulut saya dan Mama Ivon sampai
berbusa ngomongin Mas Aiman agar tidak naik-naik kursi. Saya waktu itu berusaha stay
calm dengan ngomongin sampai berulang kali. Ketika ucapan kami sudah tidak
didengarnya lagi maka terpaksa deh kami menertibkannya pakai fisik. Paha Mas
Aiman sukses dicubit sama Mama Ivon waktu itu.
Ketika saya menceritakan kejadian tersebut
pada teman kerja saya, dia malah menyayangkan tindakan kami. Kebetulan kedua
anak kami sama-sama aktif.
“Kalau aku sih, biarin saja dia naik-naik
di kursi. Sepanjang nggak membahayakan dirinya dan orang lain ya nggak
apa-apa.”
“Lha kalau sampai ada yang negur gimana?”
“Cuek aja. Namanya anak aktif, mau gimana
lagi.”
Seorang sahabat memberikan advice saat saya curhat kepadanya
tentang tingkah laku Mas Aiman yang aktif dan cenderung semua gue ini.
“Aiman berada dalam usia yang orangtuanya
butuh banyak kesabaran. Dia belum ngerti soal baik dan buruk. Tahunya apa yang
dia mau, itu yang harus terjadi. Belum bisa bedain mana yang do and dont. Belum mengerti mau ortunya.
Anakku yg laki-laki kecilnya dulu juga begitu. Sampai SD kelas 2 baru bisa
dibilangin. Aku pernah pada suatu waktu nepak pantatnya saking ga sabar dan
kesel. Pantatnya merah. Dan sampe sekarang aku nyesel berat lakukan itu.
Terbayang-bayang terus sampe dia kini sudah ABG. Tapi sekali itu doang. Makanya
pas punya yg kedua, aku jaga mulut dan marahku. Aku mulai tegas saat usianya
sudah 6 tahun. Anak-anak wajar ga bisa
dikendalikan, selama nggak melakukan kerusakan dan membahayakan, ikuti saja.”
Memiliki anak yang aktif itu sebenarnya
sebuah anugerah, itu pertanda jika dia adalah anak yang sehat dan tumbuh dengan
baik. Apalagi jika dia anak laki-laki, jika dia aktif maka dia telah tumbuh
sesuai dengan fitrahnya sebagai calon pemimpin. Itu nasihat yang pernah saya
dengar dari buku parenting dan sharing
dengan ortu lainnya.
Namun sejak kecil saya dididik oleh orang
tua dan keluarga dengan norma dan adat ketimuran yang cukup ketat. Misalnya
saja nggak boleh makan sambil berdiri apalagi lari-lari. Jangankan naik-naik ke
kursi saat makan di restoran, saya sendawa saat makan saja dianggap nggak
sopan. Itulah sebabnya kenapa saya pun menerapkan pola pendidikan yang sama
pada Aiman. Dia boleh aktif namun tetap harus mengerti sopan-santun dan tata krama.
Kalau ditegur pakai omongan nggak bisa maka terpaksa deh tangan yang berbicara.
#ForgiveUs
Sebagai manusia normal, orang tua punya
tingkat kesabaran dan ketahanan stamina juga
sih. Mungkin 30 menit pertama kita bisa ngontrol anak kita, mengikuti kemanapun
dia pergi, ngomongin pelan kalau dia mulai berulah. Tapi lama-kelamaan badan
jadi capek dan kontrol emosi pun menjadi kendur. Ditambah lagi kalau ternyata
ada orang lain yang merasa terganggu yang terlihat dari lewat tatapan mata bahkan
hingga teguran maka di situlah mental dan kesabaran kita sebagai orang tua diuji.
So
far, kami baru sekali aja
nerima teguran dari orang lain. Ya dari wanita yang satu gerbong dengan kami
saat pulang dari Cirebon itu. Selebihnya nggak pernah, sebelum Mas Aiman kena
tegur orang lain kami sudah menertibkannya dengan cara yang kami anggap efektif
untuknya. Prinsip kami adalah lebih baik kami yang nertibin anak kami dulu
sebelum dia dimarahi orang lain.
Sedikit berbagi tips, apa yang harus kita lakukan jika tingkah laku anak kita yang aktif mengganggu orang lain?
1. Minta maaf. Tetap stay cool saat orang lain menegur anak kita langsung atau menyampaikannya kepada kita. Berusaha memahami bahwa orang lain berhak mendapatkan rasa nyaman di ruang publik.
2. Ajak anak untuk meminta maaf juga. Hal ini penting agar anak tumbuh menjadi orang yang memiliki rasa tanggung jawab atas kesalahan yang dilakukannya.
3. Menjelaskan kepada anak bahwa tindakannya itu mengganggu orang lain. Hal ini memang tidak akan bisa langsung dimengerti oleh anak kita karena memang pola pikir anak masih ingin bertingkah semau gue. Tapi nggak apa-apa, kita tetap harus menyampaikan hal itu berulang kali.
4. Sebisa mungkin jangan memarahi apalagi menghukum anak di depan umum karena ini akan membuatnya malu. Bagaimanapun juga perasaan anak-anak itu sangat peka. Saya menyampaikan hal ini bukan berarti setiap kali Mas Aiman beraksi bisa mengontrol emosi, saya juga masih belajar kok dan kadang lepas kontrol. #ForgiveUs
5. Alihkan energi berlebih anak dengan kegiatan positif lainnya.
Sedikit berbagi tips, apa yang harus kita lakukan jika tingkah laku anak kita yang aktif mengganggu orang lain?
1. Minta maaf. Tetap stay cool saat orang lain menegur anak kita langsung atau menyampaikannya kepada kita. Berusaha memahami bahwa orang lain berhak mendapatkan rasa nyaman di ruang publik.
2. Ajak anak untuk meminta maaf juga. Hal ini penting agar anak tumbuh menjadi orang yang memiliki rasa tanggung jawab atas kesalahan yang dilakukannya.
3. Menjelaskan kepada anak bahwa tindakannya itu mengganggu orang lain. Hal ini memang tidak akan bisa langsung dimengerti oleh anak kita karena memang pola pikir anak masih ingin bertingkah semau gue. Tapi nggak apa-apa, kita tetap harus menyampaikan hal itu berulang kali.
4. Sebisa mungkin jangan memarahi apalagi menghukum anak di depan umum karena ini akan membuatnya malu. Bagaimanapun juga perasaan anak-anak itu sangat peka. Saya menyampaikan hal ini bukan berarti setiap kali Mas Aiman beraksi bisa mengontrol emosi, saya juga masih belajar kok dan kadang lepas kontrol. #ForgiveUs
5. Alihkan energi berlebih anak dengan kegiatan positif lainnya.
Terakhir, sebuah doa yang saya tujukan
untuk Mas Aiman: buah hati tercinta nan aktif.
“Ya Allah, dia adalah anugerah bagi kami
berdua. Saat masih bayi kami begitu menyayanginya, apalagi saat dia bertingkah
yang menggemaskan. Sekarang pun kami masih menyayanginya, walaupun kami sering
hilang kontrol saat dia bertingkah yang di mata kami dan orang lain tidak lagi
menggemaskan. Engkaulah yang mampu membolak-balikkan hati setiap insan. Kami
mohon lunakkan lah hati kami, berikan kepada kami hati seluas samudera dalam
mengasuh dan mendidik Mas Aiman. Jadikanlah dia penyejuk hati kami baik
sekarang maupun di masa yang akan datang. Kami mohon juga berikan kesabaran dan
kebesaran hati kepada orang-orang yang merasa terganggu dengan tingkah anak
kami, agar tidak ada kekesalan di dalam hatinya dan tidak menyumpahinya sebagai
anak nakal, aamiin."
Bagi yang mau sharing tentang cara yang
tepat mengasuh anak aktif silakan share di komen, tentunya dengan bahasa yang
baik dan santun ya.
Juna juga setipe mas aiman kok mas, malah blm mau.dinasehatin...
ReplyDeleteKudu doubel sabarnya...mereka anak anak super aktif
anakku persis seperti itu juga mas, aq lebih gampang emosi daripada ayahnya, jadi kalo dia udah susah di kasih tahu, aq nyerah deh kasih ke ayahnya saja, biar gak marah-marah ke anaknya
ReplyDeleteAnak aktif itu biasanya pintar kok. :D Hehehehe
ReplyDeleteSetuju banget. Lagipula Mas Aiman kan cerdas
ReplyDeleteanak aktif itu keadaan, anak nakal itu penghakiman :)
ReplyDeleteBener pak. Biasanya anak aktif itu anak yang memiliki stamina yang bagus, motorik kasarnya juga bagus, berani, kreatif, rasa ingin tahu / penasarannya tinggi, penuh ekplorasi sana sini dll. Tinggal pinter2 kita ya mengarahkannya. Semangat untuk bpk sekerluarga dan sabar dalam mendidik anak
ReplyDeleteKeren nih artikelnya, jadi tau perasaan dari sudut orangtua anaknya. Thanks for sharing yaa :))
ReplyDeletesetuju banget aku mba, anak aktif itu malah pinter lho sebenarnya krn punya rasa ingin tahu yang kuat
ReplyDeleteSetau aku mencap anak nakal itu gak boleh. Sekali berucap akan tertanam di benaknya dan menjadikan ia karakter nakal seumur hidup
ReplyDeleteJadi katakan aja ia anak aktif.
nakal ma aktif emang beda beda tipis yak :D
ReplyDeleteSebentar, kok kayaknya aku dah pernah denger cerita ini ya? Oh ini mirip2 di blog satunya ya wkwkwk :P
ReplyDeleteAnakku juga aktif banget mas pdhal baru dua tahun, kalau ketemu sama teman sebaya mainnya gak mau berhenti. Kadang saya agak kewalahan juga ngawasinnya, tapi syukurlah belum pernah sampai ngeganggu orang. Gak tau deh kalau udah agak gedean dikit heheh
ReplyDeleteAnakku juga gitu mas
ReplyDeleteSuka rame di kereta, apalagi kalo udah ketemu anak kecil lainnya. Jadi rame banget.
Untungnya orang sebelah2 pada paham :D
Kalau lihat polah tingkahnya, jadi ingat omongan emak kalau polahnya menrurun dariku hahahaha
ReplyDeletetapiii,...masih parahan Aiman :))
Dia gak nakal, cuma tipikal anak kinestetik emang gitu hehehe.
Semoga kita bisa sabar dalam mendidiknya ya :)
Anakku juga gitu, ketiga-tiganya. maklum umurnya ga jauh beda... biasanya kalau anakku baru bisa menerima penjelasan jika dirasa penjelasan itu masuk akal. Kalo tanpa alasan yang jelas yaa...gitu deh siap siap emosi jiwa wwkkwkwkwk
ReplyDeletetapi kalau disuruh memilih, mending mana hayo...anak yang aktif atau anak yang diam saja? Pasti semua milih yang aktif heheheh
ReplyDeletegak ada anak yang nakal ... yg nakal itu orang tuanya ... maen bentak, maen pukul, maen cubit, maen nakut-nakutin, maen ngancam, maen hukum sama anak-anaknya.
ReplyDeleteAnak-anak yg aktif butuh penyaluran: olahraga ada salah satunya. Banyak anak2 hiperaktif ketika masuk/ikut (club) olahraga malah jadi berprestasi dan.belajar banyak mengenai sportifitas. atau seni. anak2 butuh pengarahan dan penyaluran self esteem dan actualisasi diri.
Yg aktif itu yg mampu mengekspresikan perasaannya.
ReplyDeleteKezia anakku ke dua aktif banget beda sama kakaknya.Kaya tadi siang ke bank dia main duduk sambil coret-coret kertas kosong di bangku CS yang kosong alhasil saya yang lagi ngurus ATM hilang pun di tegor CS lain.." Bu tolong donk anaknya jangan disana".��
ReplyDeleteKalau menurut saya, aktif tentunya harus disesuikan juga sama tempatnya sih, dan orang tua wajib sebagai pendamping yang baik.
ReplyDeleteYa, saya rasa juga begitu.
DeleteKalau saya mengantisipasi anak aktif dengan memberi lingkungan yang bisa memfasilitasi keaktifan dia.
Saya pernah harus mengasuh ponakan saya yang berumur empat tahun, padahal saya harus meeting serius dengan seorang teman. Akhirnya saya ambil jalan tengah. Saya carikan mall yang ada playgroundnya, supaya keponakan saya bisa main di situ. Meeting saya selenggarakan di food court dekat playgroundnya, saya sengaja ngetag meja supaya saya bisa duduk di food court sekaligus ngawasin playground.
Memang orang tua jadi harus kerja keras sih mengasuh anak aktif. Harus lebih banyak tahu supaya bisa lebih banyak antisipasi dan bisa mengakomodasi. Tapi nggak apa-apa, namanya juga konsekuensi mengasuh anak. Sudah untung anaknya aktif, karena berarti anaknya sehat. Kan ada orang-orang tua yang anaknya sudah besar tapi punya kelainan fisik sampai nggak bisa berjalan. Kan lebih susah ngurusin anak yang begini daripada ngurusin anak yang hiperaktif.
Kebayang kalo Aiman sm Ais ketemu. Bakalan heboh dunia persilatan. Wkwkwk..
ReplyDeleteaktif itu memang bisa positif dan negatif, selama selalu dimonitor orang tua aku jamin akan lebih baik daripada dikekang2 terus :D
ReplyDeleteYang penting jangan nyebut anak nakal.
ReplyDeleteAnakku juga susah, dia terlalu aktif, makanya kami mengarahkan saja sekarang ini.
anakku yang kedua, aktif banget, capek ngikutinnya haha.. jadi ya tinggal liat waktu, kalau kelamaan main, dah mulai rewel lempar ini dan itu, anggap aja dia lelah, siapin gendongan, ajak maem sambil gendong biasanya bisa tidur :D :D
ReplyDeleteAnak laki-laki itu emang rata2 aktif ko mas, hampir semua. Dan sekarang bukan hanya anak laki2 saja yg aktif, anak perempuan jg banyak.
ReplyDeleteIni bener banget, penting untuk tahu kebiasaan dan tingkah laku anak dan berusaha sebisa mungkin untuk meminimalisir efeknya ke orang lain. Semangat, yaa
ReplyDeleteAnak aktif bagus dong asal tetap dikontrol orang tuanya kelak bisa jadi anak yang pintar, terus semangat mendidik anak-anak ya mas...
ReplyDeletePersis sis banget nih sm anakku yg kecil. Gak bisa diem. Hehehehe..
ReplyDeleteKakak Aiman sama persis sama kedua anakku yang super aktif. Mau dibilangin kaya gimana juga tetap aja jungkir balik. Alhamdulillah sampai saat ini kami belum pernah sampai ditegur orang, paling banter dapat cibiran dan tatapan tajam menusuk setajam silet dari orang sekitar.
ReplyDeleteDibalik kelelahan aku dalam mengingatkan anak-anak untuk behave selama di luar rumah (publik), tetapi ada bangganya juga karena mereka aktif dan supel dan mudah bergaul. Aku perhatikan anak-anakku kalau pas lagi main ke playground, nanti pas udah selesai main pasti dapat teman baru minimal 3 orang. So, there is always a good side on everything.
Yang penting sih sebagai orangtua harus lihat batasannya aja, kalau emang udah keterlaluan banget ya dinasehati.
Wah, mas Aiman kalau ketemu Rey pasti cocok niihh. Salam anak aktif mbaaa
ReplyDeleteSetuju anak aktif itu bukan anak nakal. Biarkan mereka bebas bereksplorasi asal tidak menganggu orang-orang lain.
ReplyDeleteSaya jg pernah ditegur... Panjang ceritanya... Jd pgn nulis jg di blog hihi...
ReplyDeletePonakan aku yg cwo sama banget mas, dia tuh gak bisa banget diem, kalo aku main ke rumahnya diajkanya main berantem-beranteman mulu, tenaganya emang gede banget, pdhal usianya skrg baru mnginjak 4thn, kakany yg cwe selalu jadi korban keisengannya.
ReplyDeleteSama seperti kelakuan ponakan saya suka ngeselin banget
ReplyDeleteSenada dengan aktifnya mas Aiman, anak lanang kesayangan saya juga sama mas. Ga bisa diem, pernah satu ketika naik kereta, dia bolak balik lari2an di dalam gerbong. Saya biarkan aja sambil mengawasi, kalau ada yang protes baru saya minta untuk berhenti... wkwkwk
ReplyDelete